Bangkit dari Kegagalan, Ar. Dhimas A. Ramadhan Rintis Studio Arsitek Sendiri di Purbalingga

Kegiatan "Alumni dan Orang Tua Mengajar" SMA Negeri 1 Purbalingga yang berlangsung Sabtu, 15 Agustus 2026 sebagai kolaborasi sekolah, IKAGA, dan orang tua siswa, menghadirkan Ar. Dhimas A. Ramadhan, S.Ars, IAI, alumnus angkatan 2009 yang kini menjabat Direktur sekaligus Principal Architect di PT. Algoritma Arsitek Studio, Purbalingga.
Selepas lulus SMA pada 2009, Dhimas menempuh program D3 Desain Arsitektur di Universitas Diponegoro hingga 2013, lalu melanjutkan S1 di Universitas 17 Agustus 1945 Semarang hingga selesai pada 2018. Kini, di tahun 2026 ini, ia tengah menempuh pendidikan S2 di Universitas Diponegoro sambil tetap menjalankan studio arsitekturnya. Dengan keahlian di bidang desain residensial, komersial, hingga bangunan sekolah, ia telah menekuni profesi arsitek secara mandiri selama enam tahun terakhir setelah sebelumnya mengumpulkan pengalaman di berbagai proyek.
Kepada siswa kelas XI dan XII, Dhimas membagikan kisah tentang perjalanan kuliah yang tidak selalu mulus, jatuh bangun menghadapi kegagalan, dan cara membangun karier di dunia arsitektur dari nol hingga memiliki studio sendiri. Sesi yang ia bawakan berbentuk berbagi pengalaman dan cerita profesi, presentasi materi, serta tanya jawab interaktif dengan siswa dari bidang teknik/teknologi, ekonomi/bisnis, hingga seni dan industri kreatif — mencerminkan bahwa profesi arsitek sesungguhnya berada di persimpangan berbagai disiplin ilmu.
Ia menjelaskan bahwa tugas utama seorang arsitek meliputi merancang bangunan, menyusun konsep desain, membuat gambar kerja, serta mengawasi pelaksanaan proyek di lapangan agar sesuai dengan desain dan standar teknis yang berlaku. Keterampilan yang paling dibutuhkan dalam profesi ini, menurutnya, mencakup kemampuan desain, komunikasi, pemecahan masalah, penggunaan perangkat lunak arsitektur, serta pemahaman teknis konstruksi bangunan secara menyeluruh. Jalur pendidikan S1 Arsitektur menjadi salah satu jalur utama menuju profesi ini, yang idealnya dilanjutkan dengan Pendidikan Profesi Arsitek (PPArs) selama satu tahun sebelum resmi menyandang gelar arsitek profesional.
Tantangan terbesar yang ia hadapi dalam pekerjaannya adalah menyeimbangkan kebutuhan dan keinginan klien dengan keterbatasan anggaran, kondisi lahan, regulasi yang berlaku, serta tuntutan teknis di lapangan — sebuah keseimbangan yang tidak selalu mudah dicapai. Namun hal itu pula yang membuatnya menikmati profesinya, yakni kesempatan menciptakan ide dan desain yang dapat diwujudkan menjadi bangunan nyata serta memberikan manfaat bagi para penggunanya.
"Kenali potensi dan minat diri sejak dini, terus belajar dan berani mencoba hal baru. Jangan takut bermimpi besar, karena proses dan konsistensi akan membawa kalian lebih dekat pada tujuan," pesan Dhimas kepada siswa SMA Negeri 1 Purbalingga.
Kehadiran Dhimas menjadi inspirasi bagi siswa yang tertarik pada bidang teknik, seni, dan industri kreatif, sekaligus bukti nyata bahwa proses kuliah yang berliku — mulai dari D3, S1, hingga kini S2 — bukan penghalang bagi seorang alumni untuk mendirikan usaha sendiri di bidang arsitektur dan berkembang menjadi pemimpin studionya sendiri di kampung halaman.
Bagikan artikel ini: