TAFSIR Q.S AN-NISA AYAT 142

➡️Tadarus Q.S An Nisa ayat 126-150
➡️Tafsir Q.S An-Nisa ayat 142, tentang Sifat Orang Munafik dalam Beribadah
Surah An-Nisa': 142 (Tafsir Jalalain)
(Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah) yaitu dengan menampakkan hal-hal yang berlawanan dengan kekafiran yang mereka sembunyikan dengan maksud untuk menghindari hukum-hukum keduniaan yang bertalian dengan itu (dan Allah menipu mereka pula) maksudnya membalas tipuan mereka itu dengan diberitahukannya apa yang mereka sembunyikan itu oleh Allah kepada nabi-Nya hingga di dunia ini rahasia mereka terbuka sedangkan di akhirat kelak mereka menerima siksa. (Dan jika mereka berdiri untuk mengerjakan salat) bersama orang-orang mukmin (mereka berdiri dengan malas) merasa berat. (Mereka bersifat riya di hadapan manusia) dengan salat itu (dan tidak berzikir kepada Allah) maksudnya tidak melakukan salat (kecuali sebentar) disebabkan riya tadi.
(Tafsir Jalalain)
Surah An-Nisa': 142 (Tafsir Ibnu Katsir)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (bermaksud) mau menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingatt Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu di antara yang demikian (iman atau kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. Ayat 142 Dalam permulaan surat Al-Baqarah disebutkan melalui firman-Nya: “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 9) Sedangkan dalam surat ini Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (bermaksud) mau menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (An-Nisa: 142) Tidak diragukan lagi bahwa Allah ﷻ itu tidak dapat tertipu, karena sesungguhnya Allah mengetahui semua rahasia dan semua yang terkandung di dalam hati, tetapi orang-orang munafik itu karena kebodohan dan minimnya pengetahuan serta wawasan mereka akhirnya menduga bahwa perkara mereka adalah seperti yang terlihat oleh manusia dan pemberlakuan hukum-hukum syariat atas diri mereka secara lahiriahnya dan di akhirat pun perkara mereka akan seperti itu juga. Perkara mereka di sisi Allah adalah seperti apa yang diberlakukan terhadap mereka di dunia. Allah ﷻ menceritakan perihal mereka, bahwa di hari kiamat kelak mereka berani bersumpah kepada Allah bahwa diri mereka berada dalam jalan yang lurus dan benar, dan mereka menduga bahwa hal tersebut memberi manfaat kepada mereka. Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya: “(Ingatlah) hari (ketika) mereka semuanya dibangkitkan oleh Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian.” (Al-Mujadilah: 18) hingga akhir ayat. Adapun firman Allah ﷻ: “Dan Allah membalas tipuan mereka.” (An-Nisa: 142) Artinya, Allah menyeret mereka secara perlahan-lahan ke dalam kesesatan dan keangkaramurkaan, membutakan mereka dari kebenaran dan untuk sampai kepadanya di dunia. Demikian juga keadaan mereka nanti pada hari kiamat, seperti yang dinyatakan oleh firman-Nya: “Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian’." (Al-Hadid: 13) sampai dengan firman-Nya: “Dan neraka itu adalah sejahat-jahat tempat kembali.” (Al-Hadid: 15) Di dalam sebuah hadits disebutkan: “Barang siapa yang ingin terkenal, maka Allah membuatnya terkenal dengan apa yang diharapkannya. Dan barang siapa yang riya, maka Allah menjadikannya terkenal dengan apa yang dipamerkannya.” Di dalam hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya Allah memerintahkan (kepada malaikat untuk) membawa hamba-Nya ke dalam surga menurut penilaian manusia, tetapi Allah membelokkannya ke dalam neraka.” Semoga Allah melindungi kita dari hal seperti itu. Firman Allah ﷻ: “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.” (An-Nisa: 142) hingga akhir ayat. Demikianlah gambaran sifat orang-orang munafik dalam melakukan amal yang paling mulia lagi paling utama, yaitu shalat. Jika mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan penuh kemalasan; karena tiada niat dan iman bagi mereka untuk melakukannya, tiada rasa takut, dan mereka tidak memahami makna shalat yang sesungguhnya. Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari jalur Ubaidillah ibnu Zahr, dari Khalid ibnu Abu Imran, dari ‘Atha’ ibnu Abu Rabah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, makruh bagi seseorang berdiri untuk shalat dengan sikap yang malas, melainkan ia harus bangkit untuk menunaikannya dengan wajah yang berseri, hasrat yang besar, dan sangat gembira. Karena sesungguhnya dia akan bermunajat kepada Allah, dan sesungguhnya Allah berada di hadapannya, memberikan ampunan kepadanya jika dia berdoa kepada-Nya. Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman Allah ﷻ: “Dan apabila mereka (orang-orang munafik) berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.” (An-Nisa: 142) Hal yang mirip telah diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Ibnu Abbas. Firman Allah ﷻ: “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.” (An-Nisa: 142) Hal ini merupakan gambaran lahiriah orang-orang munafik. Perihalnya sama dengan apa yang disebut di dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya: “Dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan malas.” (At-Taubah: 54) Kemudian Allah ﷻ menyebutkan gambaran batin mereka (orang-orang munafik) yang rusak. Hal ini diungkapkan melalui firman-Nya: “Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia.” (An-Nisa: 142) Tiada keikhlasan pada mereka, dan amal mereka bukan karena Allah, melainkan hanya ingin disaksikan oleh manusia untuk melindungi diri mereka dari manusia; mereka melakukannya dengan berpura-pura (dibuat-buat). Karena itu, mereka sering sekali meninggalkan shalat yang sebagian besarnya tidak kelihatan di mata umum, seperti shalat Isya di hari yang gelap, dan shalat Subuh di saat pagi masih gelap. Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik ialah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. Dan sesungguhnya aku telah berniat akan memerintahkan agar shalat didirikan, kemudian aku perintahkan seorang lelaki untuk shalat sebagai imam bersama orang-orang. Lalu aku sendiri berangkat bersama-sama sejumlah orang yang masing-masing membawa seikat kayu untuk menuju ke tempat kaum yang tidak ikut shalat (berjamaah), lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” Di dalam riwayat yang lain disebutkan: "Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya seseorang dari mereka mengetahui bahwa dia akan menjumpai tulang paha yang gemuk atau dua kikil yang baik, niscaya dia menghadiri shalat (berjamaah). Dan seandainya di dalam rumah-rumah itu tidak terdapat kaum wanita dan anak-anak, niscaya aku akan membakar rumah mereka dengan api.” Al-Hafidzh Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ibrahim ibnu Abu Bakar Al-Maqdami, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Dinar, dari Ibrahim Al-Hajri, dari Abul Ahwas, dari Abdullah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang melakukan shalatnya dengan baik karena ingin dilihat oleh manusia dan melakukannya dengan jelek bila sendirian, maka hal itu merupakan penghinaan yang ia tujukan kepada Tuhannya Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung.” Firman Allah ﷻ: “Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (An-Nisa: 142) Yakni dalam shalat mereka; mereka tidak khusyuk mengerjakannya dan tidak mengetahui apa yang diucapkannya, bahkan dalam shalat itu mereka lalai dan bermain-main serta berpaling dari kebaikan yang seharusnya mereka kehendaki. Imam Malik meriwayatkan dari Al-Ala ibnu Abdur Rahman, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Itulah shalat orang munafik, itulah shalat orang munafik, itulah shalat orang munafik, dia duduk seraya memperhatikan matahari; di saat matahari berada di antara dua tanduk setan (yakni saat-saat hendak tenggelam), barulah ia berdiri, lalu mematuk (maksudnya shalat dengan cepat) sebanyak empat patukan (rakaat) tanpa mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam At-Tirmidzi, dan Imam An-Nasai melalui hadits Ismail ibnu Ja'far Al-Madani, dari Al-Ala ibnu Abdur Rahman dengan lafal yang sama. Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih.
(Tafsir Ibnu Katsir)
Jawablah pertanyaan berikut!
➡️Sebutkan 3 perilaku orang munafik yang terdapat dalam Q.S An-Nisa ayat 142!
➡️Bagaimana cara menghilangkan rasa malas dalam menjalankan beribadah?
➡️Perwakilan salah satu murid untuk maju di depan kelas membacakan tafsir ayat tersebut!
Bagikan konten ini: