Doktor Teknik Nuklir Lulusan Jepang, Anggoro Septilarso Jaga Keselamatan Nuklir Indonesia di BAPETEN

Dalam kegiatan "Alumni dan Orang Tua Mengajar" SMA Negeri 1 Purbalingga yang berlangsung Sabtu, 15 Agustus 2026 sebagai kolaborasi sekolah, IKAGA, dan orang tua siswa, hadir Anggoro Septilarso, alumnus angkatan 1998 yang kini bertugas di Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) sebagai Pengelola Kegiatan Kajian Reaktor Non Daya.
Perjalanan pendidikan Anggoro dimulai dengan S1 Teknik Nuklir di Universitas Gadjah Mada pada 1998-2005. Ia mulai bekerja di BAPETEN sejak 2006, sambil terus melanjutkan pendidikan lanjutan: S2 Teknik Nuklir di Institut Teknologi Bandung pada 2008-2010, hingga akhirnya menempuh program doktoral Teknik Nuklir di University of Fukui, Jepang, pada 2017-2020. Perjalanan pendidikan berjenjang sambil bekerja ini menunjukkan konsistensinya menekuni satu bidang keilmuan yang sangat spesifik selama lebih dari dua dekade. Selama 20 tahun berkarier, tugas utamanya adalah menjamin keselamatan, keamanan, dan garda pengaman pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia — sebuah tanggung jawab yang menyentuh kepentingan keselamatan nasional secara langsung.
Kepada siswa dari semua jenjang, Anggoro membagikan pengalaman seputar pendidikan formal, perjalanan meraih cita-cita, dunia kerja, serta tantangan dan peluang profesi di bidang teknik nuklir — bidang yang masih tergolong langka di Indonesia namun sangat strategis bagi kemajuan energi dan teknologi bangsa. Sesi ini dibawakan dalam bentuk berbagi pengalaman, presentasi materi, dan tanya jawab interaktif bersama siswa yang tertarik pada bidang teknik dan teknologi.
Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan menarik dalam pekerjaannya adalah komunikasi dengan para pemangku kepentingan, mengingat isu nuklir kerap dianggap sensitif dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat awam yang belum sepenuhnya memahami manfaat dan pengawasan ketat di baliknya. Keahlian teknik nuklir yang ia kuasai menjadi keterampilan utama dalam menjalankan tugas pengawasan reaktor non-daya di seluruh Indonesia. Jalur pendidikan menuju profesinya, menurutnya, dapat ditempuh melalui bidang teknik atau MIPA di jenjang sarjana, sebelum mendalami spesialisasi nuklir di jenjang pascasarjana.
"Jangan takut, bercita-citalah yang tinggi, namun susunlah strategi yang realistis," pesan Anggoro kepada siswa SMA Negeri 1 Purbalingga — sebuah pesan yang mencerminkan perjalanan kariernya sendiri, di mana cita-cita besar di bidang nuklir ia capai melalui tahapan pendidikan yang terencana dan realistis dari S1 hingga S3.
Kehadiran Anggoro Septilarso membuka wawasan siswa tentang profesi yang jarang dikenal namun sangat penting bagi keamanan energi nasional, sekaligus membuktikan bahwa alumni SMA Negeri 1 Purbalingga mampu menembus jenjang pendidikan doktoral hingga ke luar negeri, membawa nama baik daerah asal ke panggung keilmuan internasional di bidang teknik nuklir.
Sesi berbagi yang ia bawakan turut menjadi pengingat bahwa kegiatan "Alumni dan Orang Tua Mengajar" tidak hanya menghadirkan profesi-profesi yang sudah familiar di telinga siswa, tetapi juga membuka cakrawala baru mengenai bidang-bidang khusus seperti pengawasan tenaga nuklir yang selama ini jarang dibahas di ruang kelas. Melalui kolaborasi sekolah, IKAGA, dan orang tua siswa, kegiatan semacam ini diharapkan terus memperkaya wawasan siswa mengenai ragam jalur karier yang tersedia bagi lulusan bidang sains dan teknik di masa depan.
Bagikan artikel ini: