Dulu Rangking 28 dari 34 Siswa, Nur Laela Hamdiyah Kini Menjabat Lurah Karangsentul

SMA Negeri 1 Purbalingga menggelar kegiatan "Alumni dan Orang Tua Mengajar" pada Sabtu, 15 Agustus 2026, hasil kolaborasi sekolah, IKAGA, dan orang tua siswa. Salah satu narasumber yang hadir adalah Nur Laela Hamdiyah, orang tua siswa kelas XII C1 dan X3, yang kini menjabat Lurah Kelurahan Karangsentul, Purbalingga.
Nur Laela membuka kisahnya dengan jujur: di awal masuk SMA, ia berada di rangking 28 dari 34 siswa sekelas — sebuah cambuk pertama yang mendorongnya untuk berubah. Dengan rasa malu yang mendalam, ia bertekad belajar secara tekun dengan semangat tinggi hingga naik ke rangking dua di kelas dua dan berhasil bertahan sampai kelas tiga jurusan IPA. Meski sempat gagal masuk sekolah kedinasan yang menjadi impiannya, ia tidak menyerah dan memilih menempuh pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Malang, sambil aktif mengikuti berbagai organisasi kampus untuk mengembangkan diri selama masa kuliah. Kini, meski bukan lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) seperti kebanyakan pejabat kelurahan lainnya, ia justru dipercaya memimpin sebagai lurah selama empat tahun terakhir.
Kepada siswa dari semua jenjang, Nur Laela membagikan kisah tentang perjalanan meraih cita-cita, persiapan memasuki dunia kerja, kepemimpinan, komunikasi dan public speaking, hingga motivasi belajar, melalui sesi berbagi pengalaman, presentasi materi, dan tanya jawab interaktif. Ia menekankan bahwa kemampuan public speaking dan wawasan luas menjadi bekal penting dalam profesi pemerintahan, dengan tugas utama kepemimpinan dan pemerintahan yang menuntutnya menghadapi dan menyelesaikan berbagai konflik di tengah masyarakat sebagai bagian dari kebahagiaan hakiki dalam profesinya.
"Jadilah manusia yang bisa merangkai ke atas, merangkul ke samping, dan mengakar ke bumi," pesan Nur Laela kepada para siswa — sebuah filosofi kepemimpinan yang menggambarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan atasan, sesama, maupun masyarakat akar rumput sekaligus. Ia bahkan berjanji akan menceritakan kisah lengkapnya secara lebih detail secara langsung di hadapan siswa saat sesi berlangsung di kelas.
Kisah Nur Laela Hamdiyah, dari siswa dengan rangking rendah di awal masuk SMA hingga menjadi pemimpin wilayah kelurahan, menjadi pengingat kuat bagi siswa bahwa hasil akhir tidak pernah mengkhianati proses yang tekun dan konsisten. Sebagai orang tua siswa yang turut serta dalam kegiatan ini, kehadirannya juga menegaskan bagaimana peran orang tua tidak hanya mendampingi anak dari luar, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi langsung bagi seluruh siswa di sekolah tempat anaknya menimba ilmu.
Materi yang ia bawakan dengan bantuan proyektor ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat bagi siswa yang saat ini mungkin merasa tertinggal secara akademis, sebagaimana yang pernah ia alami sendiri di awal masa SMA. Kisah personal semacam ini kerap kali lebih membekas di benak siswa dibanding sekadar teori motivasi, karena datang langsung dari sosok yang benar-benar pernah berada di titik terendah sebelum akhirnya bangkit meraih posisi kepemimpinan di pemerintahan daerah.
Bagikan artikel ini: