Gap Year 5 Tahun hingga Bertugas di PBB, Kisah Hanif A. Madjid Bagi yang Belum Meraih Mimpi

Kegiatan "Alumni dan Orang Tua Mengajar" SMA Negeri 1 Purbalingga yang berlangsung Sabtu, 15 Agustus 2026 sebagai kolaborasi sekolah, IKAGA, dan orang tua siswa, menghadirkan kisah yang tidak biasa dari Hanif A. Madjid, alumnus angkatan 1995 yang juga orang tua siswa kelas XII A-1. Ia sebelumnya berkarier sebagai Emergency Responder di IOM - UN Migration, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan migrasi, dan saat ini tengah berada di masa jeda proyek setelah 4,5 tahun berkarier di lembaga tersebut.
Hanif mengalami masa gap year selama lima tahun tanpa pernah menyangka bisa melanjutkan kuliah, bahkan sejak duduk di kelas dua SMA. Ketekunannya di bidang kepalangmerahan justru membawanya pada kesempatan kuliah di Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang, yang dulu bernama Akper Depkes Purwokerto, pada kesempatan yang menurutnya sudah menjadi kesempatan terakhir di usianya saat itu. Setelah lulus, ia tidak memilih bekerja di rumah sakit seperti kebanyakan lulusan keperawatan, melainkan bergabung dengan lembaga kemanusiaan internasional (International NGO), memulai dari Program Nutrisi di Purbalingga, dilanjutkan Tsunami Response Project di Aceh, hingga akhirnya menjadi bagian dari staf PBB di Indonesia.
Kepada siswa kelas XII, Hanif membagikan pengalaman meraih cita-cita, komunikasi dan public speaking, serta tantangan dan peluang profesi di lembaga kemanusiaan internasional, melalui sesi berbagi pengalaman, presentasi materi, dan tanya jawab interaktif. Ia secara khusus meminta agar ditempatkan di kelas selain yang pernah ia isi sebelumnya, yakni kelas X-11 dan X-12, agar audiens yang mendengarkan materinya tidak mengulang dari sesi sebelumnya.
Tugas utamanya selama bertugas di IOM adalah memastikan setiap migran memperoleh pelayanan kesehatan yang bermartabat, dengan tantangan bekerja di lingkungan multikultural yang penuh keterbatasan fasilitas dan sumber daya manusia. Keterampilan yang paling ia andalkan meliputi kemampuan bekerja dalam konteks internasional, penanganan gawat darurat medis, serta membangun jejaring lintas negara dan lintas budaya.
"Timeline kehidupan masing-masing kita berbeda — belum meraih mimpimu bukan berarti kamu sudah gagal. Dare to dream!" pesan Hanif kepada para siswa, sekaligus berharap semakin banyak alumni SMA Negeri 1 Purbalingga yang kelak berkarier di lembaga-lembaga internasional seperti PBB.
Kisah Hanif A. Madjid menjadi pengingat berharga bahwa jalan menuju cita-cita tidak selalu lurus — gap year lima tahun yang sempat ia jalani justru menjadi bagian dari proses yang membentuknya. Kehadirannya sebagai alumni sekaligus orang tua siswa turut memperlihatkan bagaimana pengalaman kerja di lembaga kemanusiaan internasional dapat menjadi bekal berharga yang dibagikan kembali kepada generasi penerus di almamaternya sendiri.
Bagikan artikel ini: