Pagelaran Wayang Angkat Tema Bahaya NAPZA, Hadirkan Edukasi Kreatif dalam MPLS Ramah SMAN 1 Purbalingga

Purbalingga, 15 Juli 2026 – Suasana berbeda mewarnai pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah SMAN 1 Purbalingga Tahun Ajaran 2026/2027. Bertempat di Aula SMAN 1 Purbalingga, ratusan peserta didik baru mengikuti Pagelaran Wayang Edukasi yang mengangkat tema Bahaya NAPZA sebagai media pembelajaran karakter dan pencegahan penyalahgunaan narkotika.
Pagelaran wayang dibawakan oleh Ki Dalang Dipa Ranu Amerta (Degel Purbayakusuma) dengan membawakan lakon "Tamtanus Mbalela". Kisah tersebut mengisahkan seorang tokoh bernama Tamtanus yang memiliki kebiasaan buruk mengonsumsi minuman keras, terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba, hingga terlibat dalam peredaran minuman keras dan narkotika. Perilaku tersebut menimbulkan keresahan masyarakat desa yang kemudian bersatu untuk menghentikan tindakan Tamtanus demi menjaga keamanan, ketertiban, dan masa depan generasi muda.
Melalui alur cerita yang dikemas dengan sentuhan humor khas pewayangan, dialog yang komunikatif, serta pesan moral yang kuat, para peserta didik diajak memahami dampak buruk penyalahgunaan NAPZA, baik bagi kesehatan, keluarga, maupun kehidupan sosial. Penyampaian materi melalui seni tradisional ini mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi para siswa.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Purbalingga, Dr. Nashrudin, S.Ag. Kehadiran BNN Kabupaten Purbalingga menjadi bentuk dukungan terhadap upaya sekolah dalam membangun kesadaran peserta didik sejak dini mengenai pentingnya menjauhi narkoba serta menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan bebas dari penyalahgunaan NAPZA.
Koordinator acara, Ruswanto, menjelaskan bahwa pagelaran wayang ini merupakan salah satu bentuk kreativitas dan inovasi dalam penyelenggaraan MPLS Ramah di SMAN 1 Purbalingga.
"Kami ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga menarik dan membekas di hati peserta didik. Melalui media wayang, nilai-nilai tentang bahaya NAPZA dapat disampaikan secara lebih dekat dengan budaya bangsa sehingga diharapkan lebih mudah dipahami dan diingat oleh para siswa," ungkapnya.
Pagelaran ini juga menjadi bukti bahwa seni dan budaya dapat menjadi media edukasi yang efektif. Selain memperoleh pengetahuan mengenai bahaya NAPZA, peserta didik baru juga dikenalkan pada salah satu warisan budaya Indonesia, sehingga sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap seni tradisional.
Kesuksesan acara ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, khususnya Ekstrakurikuler Sekartaji (Seni Karawitan SMA Siji) yang mengiringi jalannya pertunjukan dengan alunan gamelan, serta dedikasi Ki Dalang Dipa Ranu Amerta yang menghadirkan pertunjukan edukatif dan inspiratif. Sinergi antara dunia pendidikan, seni budaya, dan instansi pemerintah menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat diwujudkan melalui berbagai pendekatan yang kreatif.
Melalui kegiatan ini, SMAN 1 Purbalingga kembali menegaskan komitmennya untuk menyelenggarakan MPLS Ramah yang tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk karakter, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, serta membekali peserta didik dengan pemahaman tentang berbagai tantangan kehidupan, termasuk bahaya penyalahgunaan NAPZA. Diharapkan, seluruh peserta didik baru mampu menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, mencintai budaya bangsa, dan berani mengatakan "Tidak" terhadap narkoba.
Bagikan artikel ini: