Literasi Hari Ini
Literasi Harian
Literasi Umum

BELAJAR DARI SEJARAH G30S

Rabu, 30 September 2026Tim Literasi SMAN 1 Purbalingga811 kali dilihat
BELAJAR DARI SEJARAH G30S

Hallo, Sobat Literasi Ganesha! 👋

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya hidup di tengah situasi politik yang penuh ketegangan? Pada tahun 1965, Indonesia mengalami salah satu peristiwa paling penting sekaligus kontroversial dalam sejarahnya, yaitu Gerakan 30 September 1965 atau G30S. Peristiwa ini tidak hanya berkaitan dengan penculikan dan terbunuhnya sejumlah perwira militer. G30S terjadi dalam suasana politik, ekonomi, dan ideologi yang sangat tegang. Berbagai kelompok memiliki kepentingan dan pandangan yang berbeda mengenai arah masa depan Indonesia.

Pada awal 1960-an, Indonesia berada di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno dengan sistem Demokrasi Terpimpin. Di balik upaya menjaga persatuan lewat gagasan Nasakom, persaingan antarkekuatan politik justru kian tajam, terutama ketika perekonomian nasional terpuruk. Inflasi yang melambung membuat harga kebutuhan pokok sulit dijangkau, dan kehidupan sehari-hari rakyat semakin berat. Pada saat yang sama, rivalitas blok Barat dan blok Timur dalam Perang Dingin ikut memengaruhi arah dinamika politik dalam negeri. Perpaduan antara krisis ekonomi, perebutan pengaruh, dan rasa saling curiga antarkelompok membuat kondisi bangsa berada dalam ketegangan yang rapuh. Kerapuhan itulah yang kelak melahirkan beragam tafsir tentang G30S. Hingga kini, terdapat beberapa versi narasi mengenai dalang peristiwa ini, yakni versi PKI, Angkatan Darat, CIA, Soeharto, dan Soekarno. Masing-masing versi bertumpu pada bukti, sudut pandang, dan kepentingan yang berbeda, sehingga kita perlu menelaahnya secara kritis.

Pada dini hari 1 Oktober 1965, sekelompok pasukan yang menyebut diri Gerakan 30 September menculik enam jenderal Angkatan Darat dan satu perwira, yang kemudian dibunuh dan jasadnya dibuang ke sebuah sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta. Peristiwa ini segera memicu krisis nasional. Pemerintah dan militer menuding PKI sebagai dalang, lalu terjadi penumpasan gerakan disusul gelombang kekerasan massal di berbagai daerah. Diperkirakan ratusan ribu orang tewas, dan banyak lainnya ditahan atau kehilangan hak-haknya tanpa proses hukum yang jelas. Hingga kini, para sejarawan masih memperdebatkan siapa saja yang terlibat dan bagaimana peran masing-masing pihak. Sejarah ini mengingatkan kita bahwa sebuah peristiwa besar jarang memiliki satu penjelasan tunggal, sehingga kita perlu membaca berbagai sumber secara kritis.

Berikut tujuh tokoh militer yang gugur dalam peristiwa G30S:

1.jpg
  1. Letjen TNI Ahmad Yani. Ahmad Yani saat itu menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat. Ia menjadi salah satu sasaran penculikan pada dini hari 1 Oktober 1965 di kediamannya. Ahmad Yani kemudian dibawa oleh kelompok penculik dan ditemukan meninggal di kawasan Lubang Buaya. Dokumentasi Direktorat Jenderal Kebudayaan mencatat kediaman Ahmad Yani kemudian dijadikan Museum Sasmitaloka Jenderal A. Yani. Museum tersebut menyimpan dokumentasi mengenai penculikan dan penembakan Ahmad Yani serta pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi dari Lubang Buaya.

  2. Mayjen TNI R. Suprapto. Raden Soeprapto lahir dan besar di Purwokerto, Jawa Tengah. Pada awal kemerdekaan, ia turut berjuang merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap dan kemudian bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto. Soeprapto mulai mengikuti pendidikan militer pada 1941 setelah pemerintah Hindia Belanda mengumumkan pembentukan milisi akibat Perang Dunia II. Ia sempat mengikuti pendidikan di Koninklijke Militaire Akademie di Bandung, tetapi tidak dapat menyelesaikannya karena Jepang lebih dahulu menduduki Indonesia. Soeprapto menjadi salah satu korban G30S dan jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya.

  3. Mayjen TNI M.T. Harjono. Ia dikenal sebagai perwira militer cemerlang yang menguasai beberapa bahasa. Lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 20 Januari 1924, MT Harjono sempat menempuh pendidikan kedokteran di Ika Daigaku, Jakarta, pada masa pendudukan Jepang. Ia juga menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA). Setelah Indonesia merdeka, MT Harjono meninggalkan cita-citanya menjadi dokter dan bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada 1949, ia menjadi perwira termuda yang dikirim sebagai delegasi dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Belanda.

  4. Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo. Sutoyo Siswomiharjo merupakan perwira tinggi TNI AD asal Kebumen, Jawa Tengah, sekaligus salah satu Pahlawan Revolusi yang menjadi korban dalam peristiwa G30S pada 1965. Setelah Indonesia merdeka, Sutoyo bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Karier militernya terus berkembang, termasuk menjadi ajudan Kolonel Gatot Subroto pada 1946 dan Kepala Staf di Markas Besar Polisi Militer pada 1954. Sutoyo kemudian menjabat sebagai Inspektur Kehakiman/Jaksa Militer Utama pada 1961 karena pengalamannya di bidang hukum. Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan G30S yang dipimpin Sersan Mayor Surono mendatangi rumah Sutoyo di Jalan Sumenep, Menteng, Jakarta Pusat.

  5. Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan. Donald Isaac Pandjaitan atau D.I. Pandjaitan merupakan Pahlawan Revolusi Indonesia asal Sumatera Utara yang gugur dalam peristiwa G30S pada 1965. Lahir di Balige, Tapanuli, pada 19 Juni 1925, D.I. Pandjaitan mengikuti latihan Gyugun atau PETA di Pekanbaru pada masa pendudukan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, ia bersama para pemuda lainnya bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Riau yang kemudian menjadi bagian dari pembentukan kekuatan militer Indonesia. Semasa perjuangan, D.I. Pandjaitan juga berhasil membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk PKI. Atas pengorbanannya dalam peristiwa G30S, ia dikukuhkan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia.

  6. Mayor Jenderal Siswondo Parman. Siswondo Parman atau S. Parman merupakan Pahlawan Revolusi Indonesia asal Wonosobo, Jawa Tengah. Ia gugur setelah dibunuh dalam peristiwa G30S pada 1965 dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. S. Parman sempat menempuh pendidikan kedokteran di Belanda, tetapi tidak dapat menyelesaikannya setelah Jepang menduduki Indonesia. Ia kemudian bekerja untuk polisi militer Jepang (Kempeitai) dan sempat mengikuti pelatihan intelijen di Jepang. Setelah Indonesia merdeka, S. Parman bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ia kemudian menjabat Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara di Yogyakarta dengan pangkat kapten.

  7. Letnan Pierre Andreas Tendean. Pierre Andreas Tendean merupakan ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution yang menjadi salah satu korban dalam peristiwa G30S pada 1965. Saat itu, ia berusia 26 tahun. Pierre Tendean lahir di Batavia pada 21 Februari 1939. Setelah lulus dari Akademi Militer pada 1961 dengan pangkat Letnan Dua, ia bertugas di Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan dan mengikuti pendidikan intelijen di Bogor. Pada April 1965, Pierre Tendean dipromosikan menjadi letnan satu dan ditugaskan sebagai ajudan AH Nasution. Saat G30S, pasukan Cakrabirawa yang hendak menangkap Nasution justru mengira Tendean sebagai Nasution. Ia ditangkap dalam keadaan hidup dan dibawa ke Lubang Buaya, sebelum ditembak dan dimasukkan ke dalam sumur bersama perwira TNI lainnya. Pierre Tendean kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada 5 Oktober 1965.

Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari G30S? Pertama, perpecahan yang dibiarkan berlarut dapat berubah menjadi tragedi kemanusiaan. Kedua, informasi yang disampaikan secara sepihak mudah membentuk kebencian dan prasangka, sehingga kita perlu membiasakan diri memeriksa fakta dan membandingkan sumber. Ketiga, siapa pun yang menjadi korban, baik para perwira yang gugur maupun masyarakat yang terdampak kekerasan sesudahnya, adalah manusia yang martabatnya wajib dihormati. Sebagai generasi muda, kita tidak hanya dituntut menghafal tanggal dan nama, tetapi juga mampu memetik hikmah agar tragedi serupa tidak terulang. Mari jadikan sejarah sebagai cermin untuk menjaga persatuan, menghargai perbedaan, dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

Tuliskan di buku literasimu:

  1. Rancanglah tiga langkah nyata yang dapat dilakukan pelajar di lingkungan sekolah untuk mencegah perpecahan dan penyebaran informasi yang menyesatkan, sebagai bentuk pelajaran dari peristiwa G30S.

  2. Jika kamu diminta membuat poster atau konten media sosial dengan tema "Belajar dari Sejarah untuk Persatuan Bangsa", tuliskan pesan utama dan alasan kamu memilih pesan tersebut.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/28/183000865/7-tokoh-yang-gugur-dalam-g30s-pki-dan-kisah-singkatnya?page=1#google_vignette

Seberapa menarik literasi hari ini?

Penilaian Anda membantu Tim Literasi Ganesha menyiapkan konten yang lebih baik.

Memuat…

Bagikan konten ini: