LAUT KITA, WARISAN KITA, MASA DEPAN KITA

Hari Maritim Nasional

Indonesia memperingati Hari Maritim Nasional setiap tanggal 23 September. Pada tahun ini, peringatan tersebut memasuki tahun ke-62. Hari Maritim Nasional menjadi kesempatan bagi kita untuk mengenal kembali hubungan Bangsa Indonesia dengan laut dan memahami betapa pentingnya laut bagi kehidupan. Gagasan penetapan Hari Maritim Nasional bermula dari Musyawarah Nasional (Munas) Maritim pertama yang berlangsung pada tahun 1963. Selanjutnya, tanggal 23 September ditetapkan sebagai Hari Maritim Nasional melalui Surat Keputusan Nomor 249 Tahun 1964 pada masa Presiden Soekarno. Peringatan ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga mengajak kita untuk melihat kembali peran laut dalam kehidupan masyarakat Indonesia serta memikirkan bagaimana kita dapat menjaganya untuk masa depan.
Indonesia dan Laut
Bagi Indonesia, laut bukanlah sekadar hamparan air yang memisahkan satu pulau dengan pulau lainnya. Laut justru menjadi penghubung. Sejak dahulu, masyarakat Indonesia telah berlayar dari satu tempat ke tempat lain untuk berdagang, mencari ikan, melakukan perjalanan, dan bertemu dengan masyarakat dari daerah yang berbeda. Jejak kehidupan maritim tersebut dapat kita temukan dalam sejarah Nusantara. Kapal-kapal berlayar membawa berbagai hasil bumi dan barang dagangan. Pelabuhan menjadi tempat bertemunya banyak orang dari berbagai daerah. Dari pertemuan itu, bukan hanya barang yang berpindah, tetapi juga bahasa, pengetahuan, kebiasaan, dan budaya.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, laut bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada nelayan yang pergi melaut untuk mencari ikan, ada pedagang yang menggantungkan usahanya pada hasil laut, dan ada pula masyarakat yang menjaga tradisi serta budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, laut yang telah memberikan begitu banyak manfaat juga membutuhkan perhatian kita. Sampah dan pencemaran dapat mengganggu kehidupan makhluk laut. Kerusakan lingkungan pesisir juga dapat mengurangi sumber daya yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat. Karena itu, mencintai laut bukan hanya berarti bangga dengan sejarah nenek moyang kita sebagai pelaut. Mencintai laut juga berarti berusaha menjaganya. Kita dapat memulainya dari hal-hal sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan pantai, dan mengajak orang di sekitar kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan laut. Laut adalah bagian dari kehidupan kita. Jika laut terjaga, kehidupan di sekitarnya pun akan terus tumbuh.
🎵 Lagu Anak Indonesia/ Nenek Moyangku
Penggubah: Ibu Sud
Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b'rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramaiVariasi:
"orang pelaut" menjadi "seorang pelaut"
Dulu - Kini - Nanti
Lagu “Nenek Moyangku” juga mengingatkan kita pada hubungan erat masyarakat Indonesia dengan laut sejak masa lalu. Kini, bagaimana kita melanjutkan semangat kemaritiman tersebut? (Tuliskan di buku literasi)
🕰️ DULU
Bagaimana nenek moyang memanfaatkan dan mengarungi laut?
🌊 KINI
Apa saja tantangan yang dihadapi laut Indonesia saat ini?
🚀 NANTI
Apa tindakan nyata yang dapat dilakukan generasi muda untuk menjaga laut?
Laut bukan hanya bagian dari Peta Indonesia. Laut adalah bagian dari cerita kita, warisan dari generasi sebelumnya, dan tanggung jawab untuk generasi yang akan datang.
Bagikan konten ini: