Literasi Hari Ini
Literasi Harian
Literasi Umum

Nanti Saja? #1

Rabu, 4 November 2026Tim Literasi Ganesha1 kali dilihat
Nanti Saja? #1

Edisi 1: Kilatan yang Berirama

Malam itu langit di atas atap sekolah jernih sekali, jarang terjadi setelah hujan berhari-hari. Lail sudah dua puluh menit menyetel teleskop tua milik klub astronomi. Raras duduk bersila di sampingnya sambil membuka bungkus gorengan.

"Lomba tinggal tiga minggu," kata Raras. "Cakra sudah tanya berkali-kali, kita mau amati bintang yang mana."

"Belum ketemu."

"Lail, kamu bisa menghitung orbit planet di kepala, tapi pilih satu bintang saja nggak bisa."

Lail tersenyum tipis. Memang begitu dia: cepat soal angka, lambat soal keputusan, apalagi kalau keputusan itu menyangkut hal yang penting.

Ponsel Raras bergetar di lantai atap. Raras meliriknya sekilas, wajahnya berubah tipis, lalu ia membalik ponsel itu dan menindihnya dengan bungkus gorengan. Lail menoleh sebentar, tapi Raras sudah tersenyum lagi.

"Kenapa?" tanya Lail.

"Nggak apa-apa. Notifikasi nggak penting."

Lail mengangguk dan kembali ke teleskop. Ia tidak bertanya lagi. Ia tidak pernah pandai bertanya hal-hal seperti itu.

"Il," kata Raras ringan. "Adikku, Naya, kemarin tanya kenapa bintang berkedip. Baru kelas empat SD, tapi sudah mau jadi astronot."

"Terus kamu jawab apa?"

"Aku bilang, tanya Kak Lail saja."

"Kok aku?"

"Ya karena kamu..." Raras tertawa dan tidak melanjutkan. "Pokoknya kamu."

Telinga Lail terasa panas. Ia pura-pura sibuk memutar sekrup, lalu tiba-tiba berhenti.

Di layar kamera teleskop, sebuah bintang kecil di arah selatan berkedip. Sekali, dua kali, tiga kali. Diam. Dua kali. Diam. Lalu tiga kali lagi.

"Bintang memang berkedip, Il," kata Raras sambil mendekat. "Itu karena udara..."

"Ini bukan kedip biasa. Ini berirama." Lail menunjuk layar. "Tiga, diam, dua. Tiga, diam, dua. Polanya berulang."

Raras berhenti mengunyah.

Mereka merekam kilatan itu selama satu jam. Polanya selalu sama, rapi seperti ketukan seseorang di pintu. Lail membuka katalog bintang di laptopnya, mencocokkan posisinya, lalu terdiam.

"Nggak punya nama. Cuma nomor." Ia menghitung ulang. "Jaraknya enam tahun cahaya."

"Artinya?"

"Dalam satu tahun, cahaya menempuh sekitar sembilan setengah triliun kilometer. Itu satu tahun cahaya. Bintang ini enam kali lebih jauh." Lail menatap layar. "Cahaya yang kita lihat sekarang berangkat enam tahun lalu. Waktu itu kita masih kelas lima SD."

Raras diam. Angin atap berembus pelan. "Berarti kita melihat bintang itu seperti enam tahun lalu. Bukan seperti sekarang."

"Iya."

"Dan siapa pun yang mengirim kilatan ini..." Raras tidak menyelesaikan kalimatnya.

Menjelang pukul sebelas, Raras tiba-tiba menegakkan badan. "Il, kilatannya ada yang pendek, ada yang panjang. Ini sandi morse! Aku hafal dari Pramuka."

Ia mengambil spidol dan menulis titik dan garis di punggung buku catatan Lail. Lail membacakan kilatan, Raras menerjemahkan. Huruf demi huruf muncul, lambat dan hati-hati, sampai terbaca satu kalimat utuh.

"AKU MASIH MENUNGGU ORANG YANG MELIHAT INI. — S."

Tidak ada yang bicara cukup lama.

"Siapa S?" bisik Raras.

"Entahlah. Mungkin sudah tidak ada sekarang." Lail menelan ludah. "Pesan ini berangkat enam tahun lalu."

"Kalau begitu kita balas."

"Ras, kalau kita balas hari ini, pesannya baru sampai di sana enam tahun lagi. Kalau dia menjawab, jawabannya butuh enam tahun lagi untuk kembali ke sini. Totalnya dua belas tahun."

"Aku tahu."

"Waktu itu umur kita dua puluh sembilan."

Raras tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tertawa. "Justru itu. Aku mau ada sesuatu yang terus berjalan, walaupun..." Ia berhenti, lalu menggeleng. "Pokoknya aku mau balas. Dia sudah menunggu enam tahun, masa kita biarkan?"

Lail mengangguk. Ia merasa ada sesuatu di balik kalimat yang terputus itu, tapi tidak tahu apa.

Raras mengambil laser hijau kecil dari tas dan mengarahkannya ke bintang itu. Dengan jari agak gemetar, ia mengirim tiga kata dalam sandi morse. Cahaya tipis melesat ke langit selatan dan lenyap.

"KAMI MENDENGARMU."

"Sudah," bisik Raras. "Tinggal menunggu."

"Enam tahun sampai di sana," gumam Lail. "Dua belas tahun sampai jawabannya kembali."

Raras menoleh dan menatapnya sungguh-sungguh. "Il, kita tunggu sampai jawabannya datang, ya?"

"Dua belas tahun?"

"Janji?"

Lail ingin menjawab dengan kalimat panjang, tentang betapa lamanya waktu itu dan betapa ia ingin menemani lebih dari sekadar menunggu bintang. Tapi seperti biasa, kalimat itu tersangkut. Yang keluar hanya satu kata.

"Janji."

Raras tersenyum lebar. Di sampingnya, ponsel di bawah bungkus gorengan bergetar sekali lagi. Lail mendengarnya, tapi Raras pura-pura tidak, dan Lail tidak bertanya.

Ketika Raras sibuk membereskan tas, Lail membuka halaman paling belakang buku catatannya. Ia menulis satu kalimat pendek, menatapnya sebentar, lalu mencoretnya. Di bawah coretan itu ia menulis dua kata saja: Nanti saja.

Mereka bersiap turun. Tapi layar laptop berkedip, dan ada baris kedua dari pesan itu yang tadi tertutup gangguan. Hanya sebagian yang terbaca.

"...dan tolong, jangan..."

Sisanya hilang.

(Bersambung ke Rabu depan)


Sains di Balik Cerita

Konsep minggu ini: cahaya butuh waktu untuk sampai. Cahaya bergerak sangat cepat, sekitar 300.000 km per detik, tapi tidak seketika. Jarak antar bintang begitu jauh sehingga cahayanya butuh bertahun-tahun untuk tiba. Jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun disebut satu tahun cahaya. Jadi saat kita melihat bintang yang berjarak 6 tahun cahaya, yang tampak adalah keadaannya 6 tahun lalu.

Nyata atau khayalan? Semua yang disebut di atas nyata. Bintang yang mengirim pesan morse dan sosok "S" adalah khayalan cerita.

Pertanyaan di Buku Literasi

  1. Pemahaman cerita. Kenapa Raras ingin tetap membalas pesan itu, padahal jawabannya baru datang 12 tahun lagi? Dan kenapa menurutmu Lail hanya menjawab "Janji"?

  2. Pertanyaan sains minggu ini. Jarak Matahari ke Bumi sekitar 150 juta km. Kalau Matahari tiba-tiba padam sekarang, berapa menit kita baru menyadarinya? (Petunjuk: waktu = jarak ÷ kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km per detik. Ubah detik jadi menit.)

  3. Hubungkan dengan kehidupan. Sebutkan satu pengalaman sehari-hari yang mirip dengan cerita ini, yaitu sesuatu yang kita lihat atau terima belakangan, padahal kejadiannya sudah berlalu. (Contoh: pesan yang baru terbaca besoknya.)

  4. Prediksi dan refleksi. Menurutmu, siapa "S" dan apa lanjutan kalimat "...dan tolong, jangan..."? Tulis juga satu hal yang menurutmu sedang disembunyikan Raras, dan apa alasannya. Tidak ada jawaban yang salah.

Seberapa menarik literasi hari ini?

Penilaian Anda membantu Tim Literasi Ganesha menyiapkan konten yang lebih baik.

Memuat…

Bagikan konten ini: